Sabtu, 10 Maret 2012

Karena Istri Butuh Suami

Hari ini suamiku merayakan hari kelahirannya, tak perlu kado yang berwujud yang diberikan padanya dan memang suamiku tak pernah meminta apa-apa di hari ulang tahunnya. Yang penting bisa berkumpul bersama di saat ada hari istimewa, itu sudah melebihi cukup baginya.

Keberadaan seorang suami dalam kehidupan kita, memang tak bisa dipungkiri. Seperti saya, yang seorang Guru, tinggal di perumahan sekolah, dan parahnya lagi perumahan sekolah ada di atas gunung dan bodohnya saya sampai sekarang belum tau menggunakan kendaraan roda dua. Sehingganya, apapun yang saya lakukan harus dengan bantuan suami. Oleh karenanya, jangan heran jika yang setiap harinya ke pasar belanja kebutuhan sehari-hari adalah suami -karena kebetulan kantornya ada di bawah-, yang mengantar saya kesana kemari juga suami, yang bantu-bantu saya kerja di pagi hari, ngantarin Chacha ke TK, dan menjemput Chacha dari sekolah adalah suami juga. Sebagian pekerjaan saya sebagai istri di rumah, kadang digantikannya, dan saya tak bisa menggantikan keberadaannya untuk melakukan pekerjaan suami :D.

Begitu banyak peran suami yang harus terlaksana dengan keberadaannya di samping, saya sering kelabakan kalau dia tidak berada di tempat dan saya harus melakukan sesuatu di luar rumah. Dan saya yakin, semua istri pun sangat merasakan berartinya keberadaan suami di sampingnya, tentunya semua punya kepentingan masing-masing.

Hari ini, saya terkejut mendapat kabar dari seorang sahabat, bahwa ada salah satu sahabat kami, teman kuliahku telah kehilangan suaminya akibat kecelakaan. Wallahu A'lam, entah apa penyebabnya. Yang jelas, saya merasakan betapa terpukul hatinya, sedih, dan entah apalagi. Kebersamaan mereka sejak kuliah, sampai menikah dan punya anak tentu akan jadi kenangan tersendiri di hatinya. Bagaimana dia menjalani hari-hari setelahnya, membesarkan anak-anak mereka, mungkin sekarang terasa berat, tetapi saya berdoa semoga dia berhasil melewatinya.

Ada banyak cerita istri begitu membutuhkan suami, membutuhkan keberadaannya secara fisik di sampingnya, ada banyak cerita istri ditinggalkan suami menghadap sang Khalik, dan ada banyak cerita dimana istri bisa bangkit dari keterpurukannya.

Semoga kita para istri bisa siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang ada, semoga rumah tangga tetap utuh sampai maut memisahkan, yuuk disayang-sayang suami kita, jangan pernah kasih wajah cemberut, kasih senyum setiap saat, dan jagalah cintanya kepada kita, karena waktu akan menjadi sangat berharga bagi kita ketika mereka pergi.

Luv u Papa, Lelaki Tanpa Syarat.



Banggai, 10032012

Irma Octarina Sabubu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar